Impor Solar Dihentikan 1 Juli, RI Kini Produksi BBM dari Batu Bara

Penulis: Redaksi
Senin, 21 September 2026 | 01:01:31 WIB

NAVIGASI.CO.ID — Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia akan memproduksi bensin berbahan dasar batu bara, menyusul keberhasilan program solar campuran kelapa sawit B50. Kebijakan ini menyentuh langsung sektor transportasi dan logistik karena impor solar nasional sudah dihentikan sejak 1 Juli, sehingga biaya bahan bakar angkutan barang berpeluang lebih stabil.

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana produksi bensin berbahan dasar batu bara. Pengumuman itu disampaikan setelah pemerintah menuntaskan program solar dengan campuran minyak kelapa sawit hingga 50 persen atau B50.

Kebijakan ini menyasar sektor transportasi dan distribusi barang yang selama ini bergantung pada bahan bakar impor. Jika terealisasi, pasokan energi domestik untuk angkutan jalan, kereta, dan pelayaran berpotensi lebih terjamin.

Impor Solar Setop Sejak 1 Juli

Prabowo menyebut implementasi B50 membuat Indonesia berhenti mengimpor solar mulai 1 Juli 2026. "Kita mulai 1 Juli yang lalu kita tidak impor solar dari luar negeri. Solar kita sekarang sudah mandiri," ujarnya seperti diberitakan detik pada Minggu (20/9).

Menurut Prabowo, sejumlah negara kini kesulitan mendapatkan solar akibat konflik global. "Hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya," kata dia.

Dari sisi hulu, ia menyinggung kemampuan fakultas teknik dalam negeri mengolah kelapa sawit menjadi solar dan bensin. "Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara," tuturnya.

China Lebih Dulu Olah Batu Bara

China sudah mengembangkan teknologi konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia untuk memperkuat ketahanan energi. Mongolia Dalam, wilayah penghasil batu bara terbesar di sana, berencana membangun basis konversi serupa.

"Kami meningkatkan dan memperkuat kapasitas produksi domestik untuk proyek batu bara-menjadi-minyak, gas, dan kimia guna meningkatkan kemandirian domestik," ujar Wakil Ketua Eksekutif Daerah Otonom Mongolia Dalam Huang Zhiqiang, seperti dilansir Reuters, Senin (15/6).

Pada 2024, produksi gas, cairan, dan bahan kimia dari batu bara baru menggantikan sekitar 6 persen total impor gas dan minyak mentah China. Pada Mei 2026, Kementerian Lingkungan Hidup China menyetujui proyek batu bara menjadi olefin senilai 22,1 miliar yuan di Ordos.

Proyek berkapasitas 800 ribu metrik ton per tahun itu menghasilkan olefin, bahan dasar plastik dan produk kimia. Mongolia Dalam memproduksi sekitar 1,25-1,28 miliar ton batu bara per tahun, lebih dari seperempat produksi nasional China.

Bayangan Emisi dan Kesiapan Infrastruktur

Pengembangan batu bara menjadi bahan bakar cair menghadapi persoalan emisi karbon. Pemerintah Mongolia Dalam berupaya menyeimbangkan pemanfaatan batu bara dengan energi bersih, termasuk rencana penggunaan hidrogen hijau.

Bagi Indonesia, rencana bensin dari batu bara masih menunggu kejelasan soal lokasi kilang, teknologi, dan skala produksi. Pemerintah belum merinci jadwal maupun nilai investasinya.

Yang sudah berjalan, program B50 menjadi penopang pasokan solar nasional. Dampaknya terasa pada anggaran bahan bakar angkutan barang dan penumpang yang tidak lagi terpapar gejolak harga impor.

Reporter: Redaksi