Breaking

Danantara Tutup 290 Perusahaan BUMN, Target Kurangi Hingga 300 Entitas: Hotel, Rumah Sakit, hingga Manajemen Aset Dilebur

RE
Senin, 17 Agustus 2026
Danantara Tutup 290 Perusahaan BUMN, Target Kurangi Hingga 300 Entitas: Hotel, Rumah Sakit, hingga Manajemen Aset Dilebur
Rosan Roeslani menyampaikan keterangan terkait penutupan 290 perusahaan BUMN di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

JAWA TENGAH — Kebijakan efisiensi BUMN memasuki babak eksekusi yang masif. Dari total 1.074 perusahaan negara, sebanyak 290 entitas sudah diputuskan untuk ditutup, dilebur, atau dialihkan melalui berbagai skema korporasi seperti merger, likuidasi, divestasi, hingga konsolidasi vertikal.

"Per hari ini memang sudah menurunkan jumlah sekitar 290 perusahaan yang sudah kami tutup," kata Rosan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Hotel dan Rumah Sakit Masuk Meja Konsolidasi

Proses penataan tidak hanya menyentuh perusahaan kecil. Rosan mengungkapkan, sektor manajemen aset yang tersebar di bawah sejumlah bank dan institusi keuangan BUMN juga tengah dikonsolidasikan. Langkah serupa berlaku untuk rumah sakit dan perhotelan.

Hasilnya, sekitar 137 hotel kini berada dalam satu naungan pengelolaan. Langkah ini diambil agar pengelolaan aset lebih produktif dan tidak ada lagi tumpang tindih usaha antar-BUMN.

"Ini salah satu program yang kita jalankan dengan target memang pada akhir tahun ini kita bisa mencapai kurang lebih 300 perusahaan BUMN," ujarnya.

Investasi Rp 1.106 Triliun dan Serapan Tenaga Kerja

Di tengah agenda restrukturisasi, Danantara juga memaparkan kontribusi investasi terhadap perekonomian nasional. Pada kuartal II 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,29 persen, dengan investasi menyumbang sekitar 39 persen dari angka tersebut.

Realisasi investasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp 1.106 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Sektor ini menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja langsung. Pertumbuhan investasi yang mencapai 6,87 persen itu juga tercatat lebih tinggi dibandingkan konsumsi yang tumbuh 5,06 persen.

Rosan menegaskan, angka pertumbuhan bukan tujuan akhir. "Setiap rupiah investasi harus menghasilkan pekerjaan yang berkualitas sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat," katanya, Minggu (16/8/2026).

Hilirisasi dan Pengawasan Ekspor

Hilirisasi masih menjadi motor utama masuknya modal. Sekitar 29,7 persen investasi yang masuk berasal dari sektor ini, dengan nilai mencapai Rp 300,1 triliun dan tumbuh 6,9 persen. Namun, dominasi masih dipegang mineral sebesar Rp 206,5 triliun.

Ke depan, Danantara mendorong hilirisasi di sektor perkebunan, kehutanan, serta minyak dan gas bumi karena dinilai memiliki potensi serapan tenaga kerja lebih besar. Total investasi yang sudah dijalankan melalui dua tahap proyek—enam proyek di 13 daerah dan 13 proyek tambahan—mencapai Rp 225 triliun.

Pada sisi pengawasan, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) kini mulai memantau aktivitas ekspor. Sistem yang terintegrasi dengan data Kementerian Keuangan, Bea Cukai, Perhubungan, ESDM, Perdagangan, dan Pertanian itu memungkinkan pemerintah melihat asal pelabuhan, harga, volume, hingga negara tujuan. DSI juga mendeteksi selisih antara harga yang tercatat dengan harga indeks.

"Setelah DSI berjalan, harga yang dilaporkan kini semakin mendekati harga indeks," kata Rosan.

Restrukturisasi yang berjalan ini bukan pekerjaan ringan. Setiap keputusan merger atau likuidasi menyangkut aset, tenaga kerja, dan struktur perusahaan. Namun, efisiensi ini menjadi kunci agar pengelolaan perusahaan negara lebih ramping, produktif, dan tidak lagi saling tumpang tindih.

Sumber: opsi.id

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua