Breaking

Cekcok di Masjid Agung Solo Warnai Sekaten, Pengageng Sasana Wilapa Versi PB XIV Purbaya Tuding Pemindahan Gamelan Tanpa Izin

RE
Kamis, 20 Agustus 2026
Cekcok di Masjid Agung Solo Warnai Sekaten, Pengageng Sasana Wilapa Versi PB XIV Purbaya Tuding Pemindahan Gamelan Tanpa Izin
Suasana adu mulut antara GKR Panembahan Timoer Rumbay dan sekelompok pria mewarnai prosesi pemindahan Gamelan Kyai Sekati di Masjid Agung Solo, Minggu (15/9/2024).

SOLO — Suasana khidmat tradisi Sekaten di Solo mendadak memanas. Sebuah video yang memperlihatkan aksi adu mulut antara GKR Panembahan Timoer Rumbay dengan sekelompok pria berbusana batik di kawasan Masjid Agung Solo viral di media sosial, Minggu (15/9/2024).

Dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @seputar_surakarta, Rumbay tampak bersitegang dan berupaya memaksa masuk ke Bangsal Pagongan, namun langkahnya terhalang. Insiden ini terjadi saat prosesi pemindahan pusaka Gamelan Kyai Sekati, yang terdiri dari Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, dari Keraton menuju Masjid Agung.

Pemicu Kericuhan: Tudingan Pemindahan Gamelan Tanpa Izin

Rumbay menyayangkan langkah pemindahan gamelan tersebut. Ia menilai tindakan itu dilakukan tanpa izin dari pihak PB XIV Purbaya yang diakuinya sebagai raja sah. Bahkan, Rumbay mengaku sempat terjatuh akibat dorongan saat insiden terjadi.

"Nggak usah, saya nggak mau ramai," ujarnya singkat kepada awak media.

Di sisi lain, Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, yang berada di lokasi membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan seluruh rangkaian acara Sekaten telah mendapat izin dari PB XIV Mangkubumi selaku raja versi mereka.

"Kami seluruh rangkaian acara sekaten kita selenggarakan bersama-sama Sinuhun (PB XIV Mangkubumi) juga instansi terkait," tegasnya.

Alasan Pemindahan Gamelan Kyai Sekati

Prosesi pengeluaran gamelan dari Sasana Handrawina dipimpin langsung oleh Ketua LDA, GRAy Koes Moertiyah atau yang akrab disapa Gusti Moeng. Gamelan dibawa melalui Kori Kamandungan, Sitihinggil, melintasi Alun-Alun Utara, hingga tiba di Masjid Agung.

Gusti Moeng menjelaskan pemindahan ini terpaksa dilakukan karena kondisi bangunan di Pendopo Parangkarso, tempat penyimpanan sebelumnya, sudah rusak parah. Bangunan tersebut rencananya akan segera direvitalisasi.

"Ada dua perangkat nggih, Guntur Madu dan Guntur Sari. Nah, ini memang sudah dipindah ke sini (Handrawina) dari tempat sana (Pendopo Parangkarso) karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya dan itu termasuk apa, proyek revitalisasi nanti," katanya di Sasana Handrawina.

Meski diwarnai ketegangan, rangkaian tradisi Sekaten di Solo tetap berlangsung. Gamelan Kyai Sekati kini telah ditempatkan di Masjid Agung untuk mengiringi perayaan Maulid Nabi. Sejumlah abdi dalem Keraton Solo tampak mengangkat gamelan dengan hati-hati dari Sasana Handrawina menyusuri rute yang telah ditentukan.

Sumber: jatengpos.co.id

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua